Rentang karier Andi yang panjang dalam dunia persepakbolaan tanah air serta rekam jejaknya yang kontroversial, ia mengaku resah dengan kondisi sepak bola saat ini. Kariernya merentang mulai dari membantu Makassar Utama di era Liga Galatama, Manajer Timnas Senior saat berlaga di Piala Kemerdekaan 1988, hingga ditunjuk menjadi ketua badan Liga Indonesia di tahun 2008.
Ia maju sebagai kandidat komite eksekutif (Exco) PSSI tahun ini, dengan niatan ingin membongkar mafia bola. Hal itu tidak lepas dari upaya yang dia lakukan untuk membersihkan namanya yang sudah dicap sebagai “The God Father Mafia Sepak Bola Indonesia”.
“Nanti aja kalo gua di dalam PSSI, baru gua buka semua. Kalau Allah izinkan saya masuk, pasti kebongkar. Gua bongkar seada-adanya. Gua gak mau pusing,” ucap Andi.
Namun pencalonan dirinya tidak berakhir seperti yang diharapkannya. Meski demikian ia tetap berbagi pengalaman bagaimana berurusan dengan mafia bola baik dilevel klub maupun tim nasional. Berikut sekilas perbincangan Andi terkait mafia sepak bola nasional.
Mengapa anda kembali ke dunia sepak bola dengan mencalonkan diri menjadi anggota komite eksekutif PSSI ?.
Selama 37 tahun saya berkecimpung di bola, kira-kira 30 tahun nama saya selalu dilibatkan seolah-olah saya inilah god father Indonesia mafia sepak bola. Walaupun saya tau siap-siapa saja, mereka hanya bicara soal saya apa yang dia tahu aja didepannya gak tau didalamnya.
Sindikasi itu memang membuat sepak bola Indonesia punya masalah yang terus berulang ?.
Pak Iwan harus berani melakukan terobosan. Pak Iwan harus berani terbuka. Saya jumpa pak Iwan, saya tanya.
‘pak katanya bapak deal sama nih orang-orang ?’ tidak katanya saya tidak deal. Mereka datang menemui saya, saya bilang silahkan saja, fight.
Saya tanya lagi pada pak Iwan ‘Katanya bapak ada paket ?’ Tidak katanya.
Oke, saya hargai itu, tetapi mereka ini bikin sindikat-sindikat itu. Pertemuan-pertemuan selalu kayak begini-begitu. Voters Indonesia itu tidak punya rasa memiliki bahwa kita harus memajukan sepak bola Indonesia.
Sejak kapan manipulasi pertandingan mulai masuk ke Indonesia ?.
Waktu LPI lah mereka masuk. Waktu LPI pisah, kelompoknya pak Arifin, disitulah datang itu badan-badan dari Singapura, Malaysia. Masuk sini pegang klub-klub. Klub-klub ini ngak punyak biaya, ngak punya dana. Indonesia pada tahun 2011 mengalami dualisme kompetisi antara LPI dan LSI. LPI diselenggarakan konsorsium PT Liga Primer Indonesia untuk menyaingi kompetisi PSSI.
Tapi sebelum dualisme liga, anda pernah mengungkap sindikat judi yang memanipulasi final Piala AFF 2010 antara Indonesia melawan Malaysia ?.
Iyalah, saya ketemu orang-orang itu, saya tanya. Soalnya kita kan nuduh itu harus bisa kita buktikan. Kita ngak bisa buktikan, tapi dari permainan kan bisa tahu. Waktu terjadi pertama saya bertanya-tanya, kok begini caranya bola itu, saya masih ingat betul. Kenapa saya bilang itu ada permainan, karena begitu saya kenal sama bandar-bandar Malaysia itulah awal cerita saya.
Penjudi bola dari luar negeri di Indonesia sendiri banyak nya dari mana saja pak ?.
China, Malaysia, dan singapur, tapi bandarnya semua bermuara di China. Yang bergerak semua disini itu kan kaki tangan dari Malaysia dan singapur, tapi pusat buka judinya di sana.
Proses manajemen pengaturan pertandingan itu seperti apa ?
Ya pasti kontak pemain, kontak pengurus, kontak itu semua. Semua itu terlibat pokoknya. Kaki tangan segala macam.
Kenapa anda disebut godfather of indonesian football ?
Saya ingin memperbaiki nama saya dalam dunia sepak bola. Seolah-olah sayalah yang merusak sepak bola Indonesia. Jika Allah mengizinkan dan memberi waktunya, saya akan membuat sepak bola Indonesia jauh lebih baik, exco sekarang kan jauh lebih kotor. Jika dalam dalam setahunj saya ngak bisa benahi sepak bola Indonesia maka saya akan mundur.
Bagaimana pendapat kalian terkait mafia sepak bola Indonesia ?. bisakah para pengurus PSSI yang baru ini memperbaiki persepakbolaan tanah air ?. atau mereka akan menjadi salah satu dari kaki tangan para judi bandar. Patut dinantikan kinerja dari semua pengurus PSSI yang baru.
“seperti dilansir kumparan.com (4/11/19),”
Ia maju sebagai kandidat komite eksekutif (Exco) PSSI tahun ini, dengan niatan ingin membongkar mafia bola. Hal itu tidak lepas dari upaya yang dia lakukan untuk membersihkan namanya yang sudah dicap sebagai “The God Father Mafia Sepak Bola Indonesia”.
“Nanti aja kalo gua di dalam PSSI, baru gua buka semua. Kalau Allah izinkan saya masuk, pasti kebongkar. Gua bongkar seada-adanya. Gua gak mau pusing,” ucap Andi.
Namun pencalonan dirinya tidak berakhir seperti yang diharapkannya. Meski demikian ia tetap berbagi pengalaman bagaimana berurusan dengan mafia bola baik dilevel klub maupun tim nasional. Berikut sekilas perbincangan Andi terkait mafia sepak bola nasional.
Mengapa anda kembali ke dunia sepak bola dengan mencalonkan diri menjadi anggota komite eksekutif PSSI ?.
Selama 37 tahun saya berkecimpung di bola, kira-kira 30 tahun nama saya selalu dilibatkan seolah-olah saya inilah god father Indonesia mafia sepak bola. Walaupun saya tau siap-siapa saja, mereka hanya bicara soal saya apa yang dia tahu aja didepannya gak tau didalamnya.
Sindikasi itu memang membuat sepak bola Indonesia punya masalah yang terus berulang ?.
Pak Iwan harus berani melakukan terobosan. Pak Iwan harus berani terbuka. Saya jumpa pak Iwan, saya tanya.
‘pak katanya bapak deal sama nih orang-orang ?’ tidak katanya saya tidak deal. Mereka datang menemui saya, saya bilang silahkan saja, fight.
Saya tanya lagi pada pak Iwan ‘Katanya bapak ada paket ?’ Tidak katanya.
Oke, saya hargai itu, tetapi mereka ini bikin sindikat-sindikat itu. Pertemuan-pertemuan selalu kayak begini-begitu. Voters Indonesia itu tidak punya rasa memiliki bahwa kita harus memajukan sepak bola Indonesia.
Sejak kapan manipulasi pertandingan mulai masuk ke Indonesia ?.
Waktu LPI lah mereka masuk. Waktu LPI pisah, kelompoknya pak Arifin, disitulah datang itu badan-badan dari Singapura, Malaysia. Masuk sini pegang klub-klub. Klub-klub ini ngak punyak biaya, ngak punya dana. Indonesia pada tahun 2011 mengalami dualisme kompetisi antara LPI dan LSI. LPI diselenggarakan konsorsium PT Liga Primer Indonesia untuk menyaingi kompetisi PSSI.
Tapi sebelum dualisme liga, anda pernah mengungkap sindikat judi yang memanipulasi final Piala AFF 2010 antara Indonesia melawan Malaysia ?.
Iyalah, saya ketemu orang-orang itu, saya tanya. Soalnya kita kan nuduh itu harus bisa kita buktikan. Kita ngak bisa buktikan, tapi dari permainan kan bisa tahu. Waktu terjadi pertama saya bertanya-tanya, kok begini caranya bola itu, saya masih ingat betul. Kenapa saya bilang itu ada permainan, karena begitu saya kenal sama bandar-bandar Malaysia itulah awal cerita saya.
Penjudi bola dari luar negeri di Indonesia sendiri banyak nya dari mana saja pak ?.
China, Malaysia, dan singapur, tapi bandarnya semua bermuara di China. Yang bergerak semua disini itu kan kaki tangan dari Malaysia dan singapur, tapi pusat buka judinya di sana.
Proses manajemen pengaturan pertandingan itu seperti apa ?
Ya pasti kontak pemain, kontak pengurus, kontak itu semua. Semua itu terlibat pokoknya. Kaki tangan segala macam.
Kenapa anda disebut godfather of indonesian football ?
Saya ingin memperbaiki nama saya dalam dunia sepak bola. Seolah-olah sayalah yang merusak sepak bola Indonesia. Jika Allah mengizinkan dan memberi waktunya, saya akan membuat sepak bola Indonesia jauh lebih baik, exco sekarang kan jauh lebih kotor. Jika dalam dalam setahunj saya ngak bisa benahi sepak bola Indonesia maka saya akan mundur.
Bagaimana pendapat kalian terkait mafia sepak bola Indonesia ?. bisakah para pengurus PSSI yang baru ini memperbaiki persepakbolaan tanah air ?. atau mereka akan menjadi salah satu dari kaki tangan para judi bandar. Patut dinantikan kinerja dari semua pengurus PSSI yang baru.
“seperti dilansir kumparan.com (4/11/19),”



Tidak ada komentar:
Posting Komentar